Kajian Surat Al-A'rof ayat 176, Ibrahim ayat 24-25, An-Nahl ayat 125 dan Al-Ahzab ayat 2


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Pendidikan adalah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian yang Islami. Dari satu segi kita melihat bahwa pendidikan itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain. Disamping itu pendidikan bertujuan agar terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Menurut Islam pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadikan manusia yang menghambakan diri kepada Allah.
Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Akan tetapi pendidikan Islam disini mencakup pengajaran umum dan pengajaran agama, yang didasari dengan langkah-langkah mengajar yang disebut dengan metode pengajaran. Dalam pendidikan Islam, pengajaran agama Islam mencakup pembinaan keterampilan, kognitif, dan afektif yang menyangkut pembinaan rasa Iman, rasa beragama pada umumnya. Adapun metode pendidikan Islam yaitu cara yang paling tepat dilakukan oleh pendidikan untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam kepada anak didik.
Metode disini mengemukakan bagaimana mengolah, menyusun dan menyajikan materi pendidikan Islam, agar materi pendidikan Islam tersebut dapat dengan mudah diterima dan dimiliki oleh anak didik. Dalam pendidikan Islam metode pendidikan ini disebut dengan istilah “Thariqatut Tarbiyah” atau “Thariqatur Tahzib”
Dalam Al-Qur’an dan Hadits dapat ditemukan berbagai metode pendidikan yang sangat menyentuh perasaan,mendidik jiwa, dan membangkitkan semangat, juga mampu menggugah puluhan ribu Muslimin untuk membuka hati umat manusia menerima tuntunan Allah. Dalam hal ini, salah satunya metode dakwah yang merupakan metode pendidikan yang berfungsi untuk mengajak dan membawa uamtnya ke jalan Allah dan untuk mendapat keridhoan-Nya. Untuk itu, pemakalah akan menguak lebih jelas mengenai metode pendidikan atau yang dikenal dengan metode pengajaran secara global dalam bab pembahasan yang selanjutnya

B. Rumusan Masalah
1. Apa makna yang terkandung dalam Surat Al-a’rof ayat 176
2. Apa makna yang terkandung dalam surat Ibrahim ayat 24-25
3. Apa makna yang terkandung dalam surat An-Nahl ayat 125
4. Apa makna yang terkandung dalam surat Al-Ahzab ayat 2

C. Tujuan Makalah
            Makalah ini dibuat oleh pemakalah adalah untuk memenuhi tugas Dosen Mata Kuliah Tafsir Tafsir Tarbawi semester IV Universitas Islam Lamongan (UNISLA) oleh Bapak Victor Immadudin Ahmad, S.Th.I M.Ag dan untuk mengetahui beberapa metode pembelajaran yang cocok untuk kita praktekkan sa’at sudah terjun langsung dalam dunia pendidikan



























BAB II
PEMBAHASAN

A. Kandungan Surat Al-‘Araf Ayat 176
ولوشئنا لرفعنه بها ولكنه أخلد الى الآرض واتبع هواه فمثله كمثل الكلب ان تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث ذلك مثل القوم الذين كذبوا بأيتنا فاقصص القصص لعلهم يتفكرون -176

Artinya :
“Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (176)
Analisis Surat Al-‘Araf Ayat 176  :
(ولوشئنا لرفعنه بها) Sesungguhnya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu dan menjadikan kalian kedudukan yang tinggi melalui pengamalan ayat-ayat tersebut, akan tetapi dia cenderung kepada dunia dan harta, lebih mencintai dunia dan mementingkan kenikmatan dunia.
(واتبع هواه) Bagi orang-orang yang belum dihadapkan dengan kenikmatan akhirat, belum diberikan petunjuk dengan ayat-ayat Allah, lahir bathinnya belum diberikan kesempurnaan dan belum bisa mensyukuri nikmat Allah dengan adanya keridhoan-Nya. Perumpaman orang yang seperti itu bagaikan seekor anjing yang lagi hina yaitu anjing yang apabila dihalau maka dia mengulurkan lidahnya dan apabila dibiarkan maka dia mengulurkan lidahnya juga, dan ini merupakan sifat yang jelek dan hina yang diserupakan dengan seekor anjing. Andaikan ada sifat orang yang serupa dengan seekor anjing ini merupakan kejadian yang sangat aneh/asing, yaitu merupakan bagi orang-orang hampa akan pengetahuan mengenai ayat-ayat Allah. Dan perumpamaan yang aneh/asing ini adalah perumpamaan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan sombong kepada Allah.
Pada waktu manusia merasa bahagia karena adanya mukjizat Al-qur’an yang menampakan kejadian-kejadian orang Yahudi yang tidak menyukai adanya Nabi Muhammad SAW. Wahai rasul, ceritakanlah kepada orang Yahudi tentang orang yang diserupakan dengan seekor anjing karena mendustakan ayat-ayat Allah agar mereka dapat menjauhi jalan yang sesat dan kembali untuk meraih rahmat Allah, mensyukuri nikmat Allah dan mempelajari nama-nama kebesaran Allah. Jikalau mereka dipanggil oleh Allah, mereka menjawab akan tetapi mereka tidak menaati-Nya, karena hanya taat kepada selain Allah.
(لعلهم يتفكرون) Maka takutlah dengan adanya perumpamaan-perumpamaan yang seperti itu, karena Allah lebih mengetahui sifat-sifat umat Nabi Muhammad SAW dikarenakan beliau adalah manusia yang paling benar untuk diikuti dan dapat menolong manusia dari kesesatan.
Dalam ayat selanjutnya dijelaskan
ساء مثلا القوم الذين كذبوا بأيتنا وأنفسهم كانوا يظلمون -177.
.“Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat dzalim”. (177)
(ساء مثلا) Perumpamaan orang-orang yang mendustakan dan menentang ayat-ayat Allah, diserupakan dengan seekor anjing yang tidak mempunyai apa-apa hanya memikirkan makanan dan hawa nafsunya saja. Akhlak orang-orang yang dzalim karena penuh dengan kedustaan maka Allah akan mendzalimi mereka dengan menjauhkan diri mereka dari petunjuk Allah. Dalam sebuah hadits telah disebutkan orang diserupakan dengan seekor anjing dan telag ditetapkan dalam Soheh Kitab As-Sittah. Dari Ibnu Abbas sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda :”Bukankah orang yang hina kembali kepada kekotoran/kehinaan bagaikan seekor anjing yang mengeluarkan muntahnya”.
Amat buruknya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah diumpamakan dengan seekor anjing yang mengeluarkan muntahnya penuh dengan kotoran yang sangat menjijikkan.

B. Kandungan Surat Ibrahim Ayat 24-25
ألم تر كيف ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة أصلها ثابت وفرعها فى السماء -24
تؤتى أكلها كل حين باذن ربها ويضرب الله الآمثال للناس لعلهم يتذكرون -25
Artinya :
“Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik,akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”. (24).
“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhan-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (25).

Analisis Surat Ibrahim ayat 24 - 25
Wahai manusia, tidakkah kalian mengetahui bagaimana Allah memberikan perumpamaan mengenai kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Kalimat yang baik adalah kalimat Tauhid, kalimat orang Islam dan kalimat menyeru dalam Al-qur’an. Dan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Pohon kurma disifati dengan 4 sifat, yaitu :
1.    Pohon yang baik itu adalah pohon yang enak dipandang baik bentuknya, baik aromanya, baik buahnya, baik kegunaannya (buahnya lezat) dan memberikan manfaat yang sangat besar.
2.    Akarnya teguh (sisa akarnya melekat dan kuat tidak akan tercabut).
3.    Cabangnya menjulang ke langit (keadaannya sempurna dapat memanjangkan daun), dan apabila daunnya jatuh maka akan membusuk didalam tanah, untuk itu buahnya harus bersih dari berbagai kotoran.
4.    Pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhan-Nya (akan berbuah setiap waktu dengan seizin Allah, kekuasaan-Nya, penciptaan-Nya dan Anugerah-Nya), dan apabila pohon-pohon itu memberikan buahnya setiap waktu itu sudah merupakan aturan musim.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa kalimat yang baik itu seperti ucapan : dan pohon yang baik itu adalah pohon kurma, begitu pula menurut Ibnu Mas’ud.
Diriwayatkan pula dari Anas Bin Amr dari Nabi Muhammad SAW dan hadits Ibnu Amr yang diriwayatkan oleh Bukhori berkata : “Rasulullah SAW bersabda : beritakan aku mengenai pohon yang menyerupai sifat orang-orang muslim, yang daunnya tidak berguguran baik di musim panas ataupun musim dingin dan memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhan-Nya. Ibnu Amr berkata : sebagaimana terjadi pada diriku ketika Abu Bakar dan Umar melihat pohon kurma, kami tidak dapat berbicara apapun, sampai-sampai kami tidak dapat mengucapkan sesuatu. Rasulullah SAW berkata : itulah yang dinamakan pohon kurma.
(ويضرب الله الآمثال)  Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia, supaya dapat menambah pemahaman dan akal fikiran juga gambaran mengenai pohon kurma tersebut, karena makna-makna perumpamaan itu harus dapat diterima oleh akal dengan perasaan yang melekat, menghilangkan sesuatu yang tersembunyi dan keraguan didalamnya sehingga dapat menjadikan makna tersebut sesuatu yang dapat disentuh oleh perasaan dan fikiran. Dalam hal ini, manusia mengajak kita untuk memikirkan adanya kebesaran Allah dengan adanya perumpamaan-perumpamaan ini, dan memikirkan hal-hal yang tersirat didalamnya untuk dapat memahami tujuan dari makna-makna tersebut.






C. Kandungan Surat An-Nahl Ayat 125
أدع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي أحسن ان ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين .
Artinya :
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-Mu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Analisi Surat An-Nahl Ayat 125 :
(أدع الى سبيل ربك) Menyeru manusia ke jalan Allah dan mengesakan Allah adalh merupakan sesuatu yang penting untuk dipelajari. Oleh karena itu, inipun merupakan sesuatu yang penting bagi Nabi Muhammad SAW. Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengajak manusia ke jalan Allah dengan pelajaran. tampaklah bahwa Allah Swt. menggariskan tiga cara menyeru manusia pada Islam, yaitu: hikmah, peringatan/nasihat yang baik, dan debat. Sebagaimana potongan ayat dibawah ini :
أدع الى سبيل ربك Wahai Rasul, serulah manusia ke jalan Tuhan-Mu yaitu agama Islam melalui pelajaran yang baik dan perkataan yang baik, yaitu pelajaran dan teguran yang dapat mempengaruhi hatinya juga memberikan peringatan kepada mereka untuk takut akan siksa Allah SWT. Berdasarkan beberapa pendapat di atas,
 { بالحكمة } بالقرآنHikmah adalah al-burhân al-‘aqlî (argumentasi logis). Maksudnya, argumentasi yang masuk akal, yang tidak dapat dibantah, dan yang memuaskan. Cara demikian dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan siapa saja. Sebab, manusia tidak dapat menutupi akalnya di hadapan argumentasi-argumentasi yang pasti serta pemikiran yang kuat. Argumentasi logis mampu membongkar rekayasa kebatilan, menerangi wajah kebenaran, dan menjadi api yang mampu membakar kebobrokan sekaligus menjadi cahaya yang dapat menyinari kebenaran.  Al- Quran datang dengan hujah-hujah yang jelas dan argumentasi-argumentasi yang logis.   Hikmah, memang, kadangkala berarti menempatkan persoalan pada tempatnya; kadangkala juga berarti hujjah atau argumentasi. Dalam ayat ini, tidak mungkin ditafsirkan dengan makna ‘menempatkan persoalan pada tempatnya’. Makna hikmah dalam ayat ini adalah hujah dan argumentasi.
Jumhur ulama memaknai hikmah yang dikaitkan dengan dakwah sebagai perkataan tegas dan benar yang dapat membedakan yang hak dan batil, sedangkan hikmah yang disambungkan dengan al-Quran maksudnya adalah As Sunnah.
Dakwah dengan cara hikmah umumnya diberikan oleh seseorang untuk menjelaskan sesuatu kepada pendengarnya yang ikhlas untuk mencari kebenaran.  Hanya saja, ia tidak dapat mengikuti kebenaran kecuali bila akalnya puas dan hatinya tenteram.
Cara mengemban dakwah yang kedua, adalah
 والموعظة الحسنة (mau‘izhah hasanah) atau peringatan yang baik. Itu berarti mempengaruhi perasaan manusia tatkala akal mereka diseru dan mempengaruhi pemikiran mereka tatkala perasaannya diseru. Dengan begitu, pemahaman mereka terhadap apa yang mereka dakwahkan senantiasa diliputi oleh semangat untuk melaksanakannya serta beraktivitas untuk meraihnya. Al-Quran telah mempraktikkan hal itu. Pada saat ia menyeru pemikiran, ia pun mempengaruhi perasaan manusia. Nasihat yang baik umumnya melalui cara berita gembira dan berita peringatan dari Allah Pencipta alam. 
Adapun cara yang ketiga adalah (وجادلهم بالتى هي أحسن) (debat) dengan cara yang baik, yaitu diskusi terbatas pada ide. Debat dilakukan dengan menyerang dan menjatuhkan argumentasi-argumentasi yang batil, lalu memberikan argumentasi-argumentasi yang jitu dan benar, berdasarkan kajian hingga sampai pada suatu kebenaran. Karena itu, seperti telah disebut, debat mengandung dua sifat, yaitu merobohkan dan membangun; menjatuhkan dan menegakkan argumentasi-argumentasi.
ولاتجادل أهل الكتاب الا بالتى هي أحسن الا الذين ظلموا منهم - العنكبوت : 46
“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik kecuali dengan orang-orang dzalim diantara mereka”. (QS. Al-Ankabut : 46).
Ini merupakan perintah kepada Nabi Muhammad dari Allah untuk mengajarkan mereka dengan perkataan yang lemah lembut dan nasehat yang lembut pula. Sebagaimana ketika Musa dan Harun AS, diutus ke Fir’aun, dalam ucapannya :
فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى - طه : 44
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha : 44).
Ayat-ayat tersebut menggambarkan bahwa debat itu haruslah dalam rangka mengungkapkan kebenaran sebagai benar dan kebatilan sebagai batil di hadapan orang yang tetap ‘ngotot’ dengan kebatilannya dan kuat penentangannya sekalipun telah jelas kebenaran di antara kebatilan seperti jelasnya matahari di siang bolong. Caranya dengan merobohkan argumen batil, menyerang argumentasi  batil, serta menelanjangi kebatilan tersebut dengan argumentasi benar secara mengakar dan tepat, lalu dibangunlah kebenaran atas dasar argumen atau dalil yang tepat tersebut. Inilah hakikat debat yang dikehendaki Allah Swt.
Untuk wajib bagi setiap Da’I untuk melaksanakan dakwah keIlahian.
(ان ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله) Allah telah mengetahui orang-orang yang celaka dan orang-orang yang bahagia, dan bagi orang yang bahagia dan tahu akan kebenaran maka Allah akan diberikan petunjuk.. Allah pun lebih mengetahui siapa yang tersesat dan siapa yang mendapatkan petunjuk, bagi orang yang mendapatkan petunjuk diperbolehkan untuk bertemu denagn Tuhan-Nya. Wahai Muhammad, petunjuk itu tidak hanya bagi kamu tetapi bagi orang selain kamu yaitu bagi orang yang menyampaikan ajarannya dan orang yang mulia. Sebagaimana dalam firman Allah :
انك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء - القصص : 56
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Qhashash : 56).
ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء - البقرة : 272
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Baqoroh : 272).
Adapun urutan langkah mengajar ditentukan oleh banyak hal, antara lain :
1.     Oleh tujuan pengajaran yang hendak dicapai pada jam pelajaran itu. Jika tujuannya itu keterampilan maka urutan langkahnya ada; bila tujuannya memahami konsep, maka urutannya akan berbeda dari bila tujuannya keterampilan; demikian seterusnya.
2.     Oleh kemampuan guru. Ada guru yang pandai berbicara; ia sebaiknya banyak menggunakan ceramah. Jika guru lihai bernyanyi ia dapat menggunakan bernyanyi sebagai cara mengajar. Langkah-langkahnya disesuaikan dengan rumusan pengajaran.
3.     Oleh keadaan alat-alat yang tersedia. Dalam proses pengajaran sering kali digunakan alat-alat. Alat-alat itu menentukan langkah mengajar. Bila metode eksperimen yang digunakan, maka alat-alat eksperimen harus tersedia. Bila tidak ada, maka metode itu diganti dengan metode lain yang tidak perlu menggunakan alat.
4.     Oleh jumlah murid. Bila muridnya banyak, katakanlah 100 orang dalam satu kelas, maka metode ceramah lebih baik dari pada metode diskusi. Jalan pengajaran (langkah-langkah mengajar) metode ceramah tentu berbeda dari langkah mengajar dalam metode diskusi.

D. Kandungan Surat An-Ahzab Ayat 2
تَعْمَلُونَ خَبِيراً وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا
Artinya :
“Dan ikutilah apa yang telah diwahyukan kepada engkau darl Tuhan engkau ; Sesungguhnya Allah terhadap apa yang kamu kerjakan adalah Maha Tau”.

Analisi Surat An-Ahzab Ayat 2
Pada ayart pertama dijelaskan Nabi akan selalu mengajak orang lain supaya bertaqwa. Namun ajakan beliau kepada orang lain itu tidak akan ada artinya, cuma akan jadi cemoohan orang kalau beliau hanya menyuruh padahal dia sendiri tidak bertaqwa. Sebab itu maka Allah menasehatkan kepadanya supaya taqwa itu ditanamnya teguh terlebih dahulu dalam dirinya, sehingga orang lain yang diajak bertaqwa akan mematuhi dengan baik dan setia, sebab mereka melihat contohnya pada tingkah laku beliau sendiri.
"Dan janganlah engkau ikuti orang-orang yang kafir dan orang-orang yang munafiq".
Tentu saja ajakan dari orang kafir dan munafiq tidak boleh dituruti. Ini pun suatu perintah mawas diri daripada Allah kepada Rasul-Nya. Karena kadang-kadang kafir dan munafiq itu akan menyusun juga ajakan-ajakan yang pada lahirnya manis, padahal dalam batinnya berisi ajakan yang pahit.
Kemudian datang sambungan ayat:
"Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."(Ujung ayat 1).
Allah menutup peringatan-Nya terhadap Rasul­Nya dengan kata demikian. Ialah karena orang yang kafir, apa lagi orang munafiq kerap kali . mengeluarkan perkataan yang manis, padahal mengandung maksud hendak menyeret Rasul ke dalam perangkap yang telah mereka pasang.
Di ayat pertama melarang mengikuti kehendak kafir dan munafiq, dan di ayat kedua dijelaskan bahwa jalan yang akan ditempuh hanya satu, yaitu mengikuti wahyu yang diturun­kan Tuhan dari alif sampai yaa.
Dari pangkal jalan sampai ke ujung jalan, jangan disela-sela dengan yang lain. Sebab. jalan lurus itu hanya satu, yaitu jalan Allah. Adapun jalan kafir dan munafiq tidaklah ber­sumber dari wahyu Ilahiy, melainkan dari fikiran manusia atau perdayaan syaithan.
"Sesungguhnya Allah terhadap apa yang kamu kerjakan adalah Maha Tahu." (hujung ayat 2)
Oleh karena Allah Maha Tahu dan Maha Teliti atas segala perbuatan yang dikerjakan oleh manusia, jelaslah bahwa hati sanubari manusia pun dalam kontrole Tuhan selalu. Dia tidak boleh menyeleweng dari garis yang ditentukan-Nya.







BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kandungan Surat Al-A’raf ayat 176-177
Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa bagi orang-orang yang mengamalkan ayat-ayat Allah akan di tinggikan derajatnya, dan apabila bagi orang-orang yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah karena cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa narfsunya. maka Allah tidak akan memberikan hidayah baginya. Orang yang seperti itu diumpamakan seperti seekor anjing apabila dihalau ia mengululurkan lidahnya dan apablia dibiarkan ia mengulurkan lidahnya pula. Begitu hinanya orang yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah sehingga Allah akan memberikan peringatan kepada orang yang demikian itu.
Dalam ayat ini menggunakan metode cerita dalam ruang lingkup pendidikan.
2. Kandungan Surat Ibrahim ayat 24-25
Ayat tersebut di atas memberikan gambaran kepada kita untuk merenungi dan mentafakuri ciptaan Allah agar dapat diambil hikmah dan pelajarannya. Seperti ayat-ayat Allah yang memiliki kandungan-kandungan makna yang tersirat. Dan metode pengajaran dalam ayat ini adalah kontemplasi.
3. Kandungan Surat An-Nahl ayat 125
Dalam ayat di atas terdapat beberapa metode pengajaran, yaitu :
a. Metode hikmah (pelajaran)
b Metode nasihat yang baik
c. Metode bantahan yang baik dan perkataan yang lemah lembut
4. Kandungan Surat Al-Ahzab ayat 2
Pegangan hidup bagi Rasul dan bagi tiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul. Agama Islam hukanlah semata-mata anutan dan pelukan. Dia bukan semata-mata aqidah yang masuk akal atau yang disebut "rasionil". Dan bukanlah semata-mata beribadat, melakukan sembahyang, puasa, zakat dan hajji menurut peraturan, rukun dan syarat yang tertentu.
Al-Islam bukanlah semata-mata mempertengkarkan soal-soal khilafi­yah hasil ijtihad Ulama-Ulama terkemuka. Islam adalah kumpulan dari itu semuanya yang dijiwai oleh rasa kesadaran bahwa kita melangkah dalam arena kehidupan dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab berhadapan dengan Tuhan.
Dapat kita tegaskan lagi bahwa agama Islam itu ialah disiplin yang keras terhadap diri sendiri, terutama dalam kedudukan orang sebagai pemimpin.
Pendirian yang tegas dan pegangan yang teguh, berani menghadapi segala kemungkinan di dalam mempertahankan pendiri­an. Itu sebabnya maka pada ayat yang pertama sekali diperingatkan kepada Rasul sendiri agar beliau sekali-kali jangan mengacuhkan dan mengikuti kehendak dan permintaan orang-orang yang telah nyata kafir, apatah lagi munafiq.

B. Kritik dan Saran
            Dalam sebuah peribahasa disebutkan “Tiada Gading yang Tak Retak” dan juga tidak ada satupun yang sempurna didunia ini, karena kesmpurnaan hanya milik Allah, begitupun makalah ini yang kami yakin masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saran maupun kritik membangun dari semua pihak, Khusunya Bapak Dosen Victor Imaduddin Ahmad, S.Th.I, M.Ag untuk berkenan membimbing kami, karena saran dan kritik yang membangun merupakan embun kesegaran bagi kami yang tengah haus akan ilmu dan sebagai bekal kami untuk menapaki dunia pendidikan Agama Islam khususnya





















DAFTAR PUSTAKA

Wahbah Ar-Rahili, DR, Ust, Tafsir Munir (Dalam Aqidah,Syari’ah dan Manhaj), Beirut, Libanon : Darul Fikr Al-Ma’ashir, 1991 M/1411 H, cet. 1.
Ahmad Tafsir, DR, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1994, cet.2.
Nur Uhbiyati, Hj. Dra, Ilmu Pendidikan Islam (IPI) Untuk IAIN, STAIN, PTAIS, Bandung : CV. Pustaka Setia, 1998, cet.2.
Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, Bandung : PT Al-Ma’arif, 1993, Cet III
Jalaludin Muhammad Ibnu Ahmad Al Mahly, Tafsir Al-Quranul Adzim, Daarul Ilmi, Juz

1 komentar:

  1. akhy faisal mengatakan...:

    thanks for your help sehignga can help me I take dsedikit it ....

Poskan Komentar

My Facebook

Just Love Obe Person

Data Pengunjung

Hit Counter

Blog Archive

Followers

Code CBox milik sampeyan
Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini

Pages

sekali bendera dikibarkan, hentikan ratapan dan tangisan tengan terkepal dan maju kemuka. Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates

Blogger news

Time